logo-raywhite-offcanvas

29 Jun 2026 NEWS 4 min read

Mitos dan Fakta Seputar Membeli Rumah

Membeli rumah adalah salah satu keputusan finansial terbesar dalam hidup seseorang. Karena melibatkan uang yang tidak sedikit, wajar jika banyak nasihat dan asumsi yang beredar di masyarakat. Sayangnya, tidak semua nasihat tersebut akurat. Banyak yang justru menjadi mitos dan membuat calon pembeli ragu atau salah langkah. Mari kita bedah mitos dan fakta seputar membeli rumah agar Anda bisa mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.

  1.  Uang Muka (DP) Harus Selalu Besar? 

Ada asumsi lama yang bilang kalau belum pegang uang ratusan juta untuk DP, lupakan saja mimpi punya rumah sendiri. Dulu mungkin iya, tapi hari ini medannya sudah berubah total. Banyak developer yang bekerja sama dengan bank untuk memangkas hambatan awal ini lewat promo DP rendah 5%, bahkan program DP 0%. 

Namun, ada hukum keseimbangan yang berlaku yaitu DP kecil itu seperti pedang bermata dua. Kemudahan di awal berarti Anda harus siap dengan konsekuensi pokok utang yang membengkak. Efek dominonya? Cicilan bulanan Anda akan lebih tinggi atau masa tenornya jadi lebih panjang. Jadi, kuncinya bukan seberapa besar DP-nya, tapi seberapa sehat aliran kas (cash flow) bulanan Anda setelah akad.

  1.  Membeli Rumah Baru Lebih Baik daripada Rumah Sekon? 

Brosur rumah baru dari developer memang selalu menggoda: desain kekinian, lingkungan rapi, dan fasilitas klaster yang estetik. Banyak yang berpikir rumah baru pasti bebas masalah. Padahal, tidak selalu begitu. Rumah baru di bawah harga pasar sering kali berlokasi di pinggiran kota yang akses transportasinya masih dalam tahap pengembangan.

Disisi lain, jangan antipati dulu dengan rumah seken (bekas). Keunggulan utama rumah sekon biasanya ada pada lokasi yang sudah matang berada di pusat kegiatan, dekat sekolah, dan akses transportasinya sudah hidup. Harganya pun sering kali lebih masuk akal secara hitungan per meter persegi. Tantangannya? Anda harus teliti memeriksa fisik bangunan (siapkan dana renovasi) dan ekstra hati-hati saat mengecek legalitas sertifikatnya.

  1. Menunggu Pasar Properti Turun Baru Membeli? 

Harga properti sedang tinggi, "lebih baik tunggu sampai pasar crash atau Jangan beli sekarang, tunggu sampai properti lesu atau harganya jatuh." Menunggu momen pasar yang sempurna seperti ini sebenarnya adalah jebakan semu. Dalam realitasnya, harga tanah dan hunian terutama di kawasan yang strategis hampir tidak pernah turun secara drastis; trennya cenderung konsisten merangkak naik dari tahun ke tahun.

Menunda membeli rumah demi menunggu harga turun seringkali berakhir dengan kekecewaan: ketika Anda merasa tabungan sudah bertambah, harga rumah incaran Anda justru sudah melompat lebih tinggi lagi. Prinsip dasarnya sederhana: waktu terbaik untuk membeli rumah bukanlah saat kondisi pasar sedang turun, melainkan saat kondisi finansial dan mental Anda sendiri yang sudah siap.

  1. Biaya Membeli Rumah Hanya Seharga Rumah Tersebut? 

Ini adalah momen culture shock yang paling sering dialami oleh pembeli rumah pertama. Di brosur tertera harga Rp500 juta, lalu kita mengira uang yang harus disiapkan ya pas sejumlah itu. Begitu masuk proses administrasi, barulah muncul tumpukan biaya legalitas yang nilainya tidak main-main bisa mencapai 5% hingga 11% dari harga transaksi.

Ada Pajak Pembeli (BPHTB) yang wajib disetor ke kas daerah, biaya notaris untuk mengurus Akta Jual Beli (AJB) dan balik nama sertifikat, hingga biaya administrasi bank, provisi, appraisal, serta asuransi jika Anda mengambil jalur KPR. Jadi, pastikan tabungan Anda tidak mepet di harga rumah saja; siapkan dana cadangan untuk biaya-biaya "di balik layar" ini.

  1.  Mengontrak Sama Dengan Membuang Uang? 

Ada stigma sosial yang menganggap bayar kontrakan tiap bulan itu sia-sia karena kita "membiayai aset orang lain". Tapi kalau kita bedah dari kacamata finansial yang lebih fleksibel, mengontrak tidak seburuk itu.

Bagi mereka yang pekerjaannya masih menuntut mobilitas tinggi, sering pindah kota, atau sedang memutar modal untuk merintis usaha, mengontrak justru menjadi pilihan paling rasional. Memaksakan diri mengambil KPR jangka panjang di saat fondasi karier atau keuangan belum stabil justru jauh lebih berisiko. Mengontrak rumah yang fungsional sembari mengalokasikan sisa dana secara disiplin ke instrumen investasi atau tabungan DP adalah langkah yang jauh lebih bijak daripada terjebak cicilan yang mencekik nafas dapur Anda.